Polemik Keterlibatan Rusia pada Kampanye Trump dan Pemilu Presiden 2016

Sejak resmi terpilihnya sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016, Donald Trump, memang tidak pernah sepi dari pemberitaan. Sayangnya pemberitaan bagi sang Presiden nyentrik yang satu ini lebih banyak menuai respon negatif baik masyarakat lokal ataupun internasional.

Mantan penasihat George W Bush telah mewanti-wanti Donald Trump bahwa tidak akan ada lagi “permainan” dan “kebohongan”, setelah terbit rencana untuk menginterogasi sang Presiden sebagai bagian dari investigasi campur tangan Rusia pada pemilu 2016.

Richard Painter, yang telah mengabdi pada Gedung Putih, sejak tahun 2005 hingga 2007, mengatakan bahwa ini saatnya untuk sang pebisnis miliyuner itu untuk menyatakan kebenaran.

presiden amerika dan presiden rusia

Komentarnya tersebut diungkapkan ketika jaksa, Robert Mueller, yang melaporkan ingin mewawancarai Tuan Trump mengenai pemecatan direktur FBI, James Comey, dan Penasehat Keamanan Nasional, Michael Flynn.

Investigasi Mueller ini berusaha untuk mencari kebenaran atas dugaan campur tangan Rusia pada pemilu presiden Amerika Serikat dan juga keterlibatannya pada kampanye Trump. Mereka juga mencoba untuk mengungkap kebenaran jika Trump telah dengan sengaja menghalangi investigasi FBI terhadap Rusia dan kampanyenya di 2016.

Jaksa Agung, Jeff Sessions telah diperiksa selama berjam-jam dalam penyelidikan khusus, menurut laporan dari Departemen Kehakiman.

Anggota kabinet pertama yang diketahui telah masuk daftar orang yang diinvestigasi, Jeff Sessions, adalah investigasi yang melibatkan orang dengan profil yang sangat tinggi hingga hari ini.

Awal pekan ini, Donald Trump mengatakan bahwa ia “sama sekali tidak peduli” dengan apa yang telah disampaikan oleh Jeff Sessions pada tim Mueller dalam investigasi tersebut.

Jika Trump berhasil diwawancara oleh Mueller, kemungkinan besar sang Presiden akan ditanyai tentang pemecatan Comey dan hubungannya dengan mantan direktur FBI, serta permintaannya terhadap Flynn untuk mengentikkan investigasinya tersebut.

Komentarnya Terhadap Negara-Negara Afrika

Bukan hanya pada Korea Utara, ternyata Mr. Trump juga mengeluarkan komentar bernada miring pada negara-negara di benua Afrika. Yang terbaru adalah ketika Presiden Amerika ini mengungkapkan jika negara-negara di Afrika dikategorikan sebagai negara-negara lubang dubur atau ‘A**hole Countries’.

donald trump - presiden as

Namun berbeda dengan respon yang dikeluarkan oleh kebanyakan dari pihak Afrika, Presiden Uganda, Yoweri Museveni, mengatakan bahwa ia sangat menyukai Presiden Trump terlepas dari komentarnya terhadap negara yang dipimpinnya. Ia mengatakan jika Trump adalah presiden terbaik yang Amerika Serikat pernah miliki.

“Saya menyukai Tuan Trump karena ia telah berkata jujur mengenai (keadaan negara-negara di) Afrika. Dia menunjukan di mana kelemahan Afrika secara terus terang.” Ia kemudian menambahakan.

Meski begitu, ternyata ucapan Trump ini tidak hanya menuai kritik yang pedas dari para warga Afrika. Istilah ‘A**hole’ yang digunakan Trump untuk menyebut negara-negar di Afrika juga ternyata digunakan secara kreatif oleh para situs independen yang mengelola pariwisata Afrika.

Trump Masih Gagal Merealisasikan Jargon-nya

Presiden Trump juga terkenal dengan jargon-nya yang selalu ia teriakan selama kampanye-nya di 2016 yaitu ‘Make America Great Again’ atau menjadikan Amerika hebat kembali. Tapi ternyata jargon-nya tersebut belum berhasil terealisasi setelah 2 tahun dirinya menjabat sebagai presiden.

Pasalnya menurut World Report, selama 2 tahun berturut-turut pemerintahan Donald Trump, Amerika Serikat belum menunjukan kehebatannya, alih-alih malah terus melorot dari posisi sebelumnya di tahun 2016 di angka 6, kini berada di angka ke-8.

Merosotnya posisi Amerika ini juga bisa dipengaruhi oleh perilaku Presiden Trump yang dianggap membuat keadaan Amerika Serikat kurang stabil dan tidak dapat dipercaya oleh negara-negara lain baik di bidang ekonomi, politik, hukum, kesehatan, atau Pendidikan.