Meledaknya Pabrik Petasan dan Ironi Pekerja Marjinal

Bulan Oktober 2017 diwarnai dengan peristiwa memilukan di dunia tenaga kerja Indonesia  yang lagi-lagi korbannya adalah masyarakat kelas bawah. Pekerja marjinal yang sudah kerap menjadi sapi perah majikan kapitalis kini harus merelakan satu-satunya nyawa pemberian Tuhan karena keteledoran yang disengaja oleh pemilik pabrik.

Tanggal 26 Oktober 2017 akan selalu dikenang pahit oleh lebih dari 40 keluarga korban meninggal dan puluhan korban yang menderita luka bakar parah yang akan terus membekas seumur hidup mereka. Sebuah pabrik petasan besar yang terletak di kawasan pemukiman, bahkan di belakang sebuah sekolah meledak hebat dan terbakar habis beserta manusia dan aneka petasan, kembang api di dalamnya.

pabrik petasan tangerang meledak

Ledakan hebat yang mengagetkan siswa sekolah dan penduduk di sekitar meninggalkan bekas trauma yang cukup mendalam. Penyelamatan korban yang terbakar hidup-hidup menggoreskan kepedihan bagi mereka sebagai masyarakat kelas bawah yang menyaksikan tetangga, saudara sebangsanya mengalami penderitaan sedahsyat itu.

Ditambah dengan lambatnya petugas pemadam kebakaran datang ke lokasi menambah jumlah korban meninggal. Warga sekitar tidak banyak bisa membantu dengan kondisi kebakaran besar dan akses pintu gerbang yang dikunci. Mereka berusaha membobol tembok beton untuk membantu menyelamatkan korban sebanyak mungkin.

Kejadian ini ternyata membuka fakta-fakta miris tentang pabrik petasan di mana di beberapa media menyebutnya pabrik kembang api. Sebuah penghalusan untuk kebenaran yang pahit. Juga ironi akan pekerja marjinal yang bekerja di negerinya sendiri dengan taruhan nyawa. Berikut fakta tentang PT. Panca Buana Cahaya Sukses:

  1. Pabrik Baru 2 Bulan

Pabrik yang baru beroperasi selama dua bulan ini berlokasi di Jl. Raya SMPN 1 Kosambi Desa Belimbing RT 20/10 Kec. Kosambi, Kab. Tangerang. Surat yang dimiliki pada awalnya adalah izin sebagai gudang dang tempat pengemasan kembang api dan mercon. Kemudian pada tahun 2016, mengajukan izin manufaktur dan disetujui pada bulan Mei 2017. Meski lokasi dan kondisi pabrik tidak dapat dikatakan memenuhi syarat sebagai pabrik. Bupati Tangerang sebagai penanggung jawab daerah membeberkan fakta ini sekaligus berlepas tangan atas ketidaksesuaian dokumen dengan kondisi pabrik. Menurut Bupati, kemungkinan pabrik ini mengubah desain dari yang pernah diajukan sehingga tidak sesuai dan layak sebagai pabrik rawan kecelakaan.

 

  1. Sistem keamanan pabrik

Dengan mengantongi izin sebagai pabrik, tempat ini tidak memiliki sistem keamanan yang baik seperti perangkat pemadam kebakaran. Apalagi produk yang dihasilkan masuk dalam kategori berbahaya. Pada saat kejadian, pekerja memadamkan api dengan menggunakan air dari selang. Tidak ada alat pemadam berupa APPAR yang wajib dimiliki untuk area kantor dan pabrik. Bahkan korban selamat mengatakan, pada saat kejadian, pintu gerbang ditutup sehingga korban terperangkap di dalamnya. Jika tidak ada warga sekitar yang membantu dengan membawa tangga dan membobol tembok beton, jumlah korban meninggal akan lebih banyak.

Pada saat kejadian, regu pemadam kebakaran baru tiba di lokasi pada pukul 10.30, padahal kebakaran terjadi pukul 09.00 pagi. Dan api bisa dipadamkan dua jam kemudian setelah 4000 kg bahan baku kembang api habis terbakar.

 

  1. Berada di area pemukiman

Pabrik berada tepat di belakang gedung sekolah SMP N 1. Pada saat kejadian, terjadi dentuman hebat dari ledakan yang dapat mengakibatkan trauma pada telinga warga yang berada di sekitarnya. Hal ini menjadi pertanyaan besar, mengapa pabrik yang menghasilkan produk berbahaya bisa berada di dekat fasilitas umum.  Walaupun disebutkan bahwa kawasan tersebut adalah kawasan pabrik, namun dengan tingkat kerawanan yang tinggi, seharusnya sebuah pabrik petasan tidak boleh berdiri di sana.

 

  1. Jumlah Pekerja 103 orang

Dalam dokumen resminya, pabrik ini mengakui memiliki pegawai 10 hingga 20 orang. Namun faktanya, pekerja di pabrik ini mencapai 103 orang dengan beberapa di antaranya pekerja di bawah umur, salah satunya berusia 15 tahun. Hal ini diketahui dari korban meninggal dan pengakuan warga yang mencari anggota keluarganya yang hilang. Dengan jumlah pegawai fiktif, pabrik ini hanya mendaftarkan 27 pegawainya dalam program BPJS.

Selebihnya, pekerja yang ada adalah pekerja lepasan dengan honor yang diterima hanya berkisar 40 – 50 ribu per hari dengan sistem borongan dengan target 1000 pack kembang api. Artinya, jika dalam satu kelompok yang terdiri dari 5 orang tidak mencapai target, maka pekerja dalam kelompok tersebut akan dipotong upahnya hingga ada yang hanya mendapat upah 20 ribu. Upah tersebut diterima tanpa uang makan dengan jam kerja mulai dari jam 8 pagi hingga 5 sore.

Karena lokasinya yang berada di dekat pemukiman, pekerja pabrik tersebut 60 persennya adalah perempuan yang ingin mencari tambahan pendapatan. Bahkan beberapa pekerja di bawah umur tidak menceritakan jenis pabrik tempat mereka bekerja kepada keluarga mereka. Karena anak-anak itu tahu, keluarga akan melarang bekerja di tempat yang berbahaya tersebut.

Kejadian ini seharusnya membuka mata warga dan pemerintah untuk tidak lagi bermain-main dengan keselamatan warganya sendiri. Setiap ada penyimpangan dan kelalaian harus segera ditindaklanjuti dan menjadi konsern utama pemerintah dalam menegakkan aturan industri barang-barang berbahaya. Semoga para korban segera mendapatkan santunan yang menjadi hak mereka dan pemerintah sebagai regulator tidak membiarkan kejadian serupa terulang di bumi Indonesia.